Suku Aceh – Asal, Bahasa, Dogma, Rumah Budbahasa, Baju Tradisional, Tarian Akhlak & Penjelasan


Suku Aceh adalah penduduk orisinil yang mendiami kawasan pesisir di provinsi Aceh serta sebagian kawasan pedalaman Aceh. Kelompok penduduk ini menamakan diri mereka selaku Ureuëng Acèh.





Selain itu, etnis Aceh juga memiliki beberapa nama lain, yakni Atse, A-tse, Achin, Asji, Akhir, Lambri, dan Lam Muri. Populasi orang Aceh ketika ini berjumlah sekitar 3.526.000 jiwa. Mayoritas dari mereka tinggal di Provinsi Aceh. Sebagian diantaranya tersebar ke seluruh wilayah Indonesia sampai mancanegara, mirip Malaysia, Singapura, Arab Saudi, Kanada, Amerika Serikat, Australia, Qatar, Paraguay, Jerman, dan negara-negara Skandinavia.





Suku Aceh dikenal selaku golongan masyarakat yang berpegang teguh kepada anutan Islam. Suku ini memiliki sejarah yang sungguh panjang, dimana budayanya mengalami abad kejayaan pada kurun ke-16 hingga Kerajaan Islam Aceh Darussalam di kurun ke-17.






Asal Usul Suku Aceh





Dari beberapa bukti arkeologis, daerah Aceh dihuni oleh manusia pertama kali ada pada periode pasca Plestosen. Moyang suku Aceh berdomisili di pantai timur Aceh yang dikala ini menjadi kota Langsa dan Tamiang.





Mereka bertahan hidup dari hasil maritim, khususnya kerang-kerangan. Selain itu, mereka juga berburu warak dan babi. Kelompok penduduk ini telah mengenal api. Mereka juga melaksanakan penguburan jenazah dan telah mengenal upacara adab tertentu.





sejarah suku aceh




Setelah itu, ada juga perpindahan suku-suku Melayu, yaitu Suku Mantir dan Lhan yang merupakan 2 suku Melayu Tua (proto Melayu). Ada pula suku Champa, Melayu, dan Minang yang merupakan suku Melayu Muda (deutro Melayu). Suku-suku dari Melayu Muda berperan besar dalam membentuk pribumi Aceh.





Selain itu, kawasan Aceh juga menjadi lokasi tujuan bangsa ajaib, utamanya dari India Selatan, serta bangsa Arab, Turki, Persia, dan Portugis. Banyaknya warga asing yang sempat singgah di Aceh dikarenakan wilayah barat Indonesia ini berada dalam posisi strategis, adalah di bab utara Pulau Sumatera. Lokasi yang strategis ini menjadikan Aceh menjadi tempat persinggahan bagi beberapa suku bangsa selama ribuan tahun.





Bahasa Aceh





Masyarakat asli Aceh menuturkan bahasa Aceh-Chamik yang memiliki kemiripan dengan bahasa Roglai, Cham, Rhade, Chru, Jarai, Utset, dan bahasa yang lain yang ada di rumpun bahasa Chamik. Beberapa bahasa ini juga dituturkan di Hainan, Kamboja, dan Vietnam.





Dalam bahasa Aceh juga terdapat kata-kata dukungan dari bahasa Mon-Khmer yang memungkinkan nenek moyang Suku Aceh pernah berdiam di Thailand Selatan atau Semenanjung Melayu, sebelum jadinya pindah ke Sumatera.





Kosakata dalam bahasa Aceh juga diperkaya dengan kata-kata serapan dari bahasa Sansekerta dan bahasa Arab. Kedua bahasa digunakan khususnya dalam istilah pemerintahan, aturan, ilmu, seni, ilmu, dan peperangan. Bahasa Melayu dan Minangkabau juga banyak diserap dalam bahasa Aceh.





Kepercayaan Suku Aceh





Sebelum Islam masuk ke Aceh sebagian besar masyarakat Aceh memeluk agama Hindu. Hal ini mampu terlihat dari beberapa budaya Aceh yang berasal dari penyesuaian bagian-bagian agama Hindu dan budaya India.





Aceh yang menjadi tempat persinggahan bagi para pedagang timur tengah lalu mendapat pengaruh Islam. Perlahan-lahan, agama Islam pun masuk ke Aceh dan sejak dikala itu Aceh menjadi daerah di Indonesia menganut syariat Islam sampai saat ini.





Rumah Adat Aceh





Rumah tradisional Aceh bernama Krong Bade, rumah adab Aceh ini mempunyai struktur rumah panggung. Tinggi Krong Bade sekitar 2,5 sampai 3 meter dari permukaan tanah.









Bangunan ini sengaja dibentuk tinggi untuk menghindari serangan hewan buas dan juga bencana alam mirip banjir dan gempa bumi. Sebagian besar material yang dipakai untuk membuat Krong Bade yaitu kayu, mulai dari atap, lantai, dan beberapa pernak-pernik yang lain. Bagian atapnya terbuat dari daun enau yang dianyam.





Bagian kolong rumah difungsikan sebagai daerah untuk menyimpan persediaan makanan. Bagian atas rumah dipakai untuk mendapatkan tamu, daerah bermusyawarah, serta untuk kawasan beristirahat bagi pemilik rumah.





Pakaian Adat Aceh





Pakaian akhlak yang dikenakan Suku Aceh terinspirasi dari rancangan baju adab Melayu. Pakaian adat hanya dikenakan untuk acara-acara tertentu, contohnya upacara budpekerti, pernikahan, dan lain-lain.





Pakaian etika laki-laki Aceh dinamakan Meukasah untuk atasan dan celana Cekak Musang. Baju Meukasah yaitu baju berwarna hitam yang dilengkapi dengan pernak-pernik berwarna kuning keemasan. Sementara itu, celana Cekak Musang bermodel celana panjang longgar.





baju adat aceh




Pakaian tradisional wanita Aceh ialah baju kurung berlengan panjang dengan bawahan celana Cekak Musang. Baju kurung yakni busana tradisional yang sungguh bersahabat dengan budaya Melayu. Bentuknya longgar dan tidak membentuk siluet bentuk badan perempuan.





Pakaian adat ini sangat cocok dengam syariat Islam yang dianut oleh masyarakat Aceh. Para perempuan Suku Aceh umumnya juga mengenakan kerudung untuk melengkapi performa mereka.





Senjata Tradisional Aceh





Senjata khas Suku Aceh ialah Rencong. Senjata tradisional sangat terkenal dan bentuknya mirip dengan keris. Pada kala kemudian rencong yaitu senjata Kesultanan Aceh. Rencong memiliki banyak jenis, beberapa diantaranya yakni Rencong Meucugek, Rencong Pudoi, Rencong Meupucok, dan Rencong Meukuree.





Namun disamping itu, masyarakat Aceh juga memiliki senjata tradisional lainnya. Senjata tradisional tersebut dinamakan Peudeung dan Siwah.





Tarian Tradisional Aceh





Tari tradisional orisinil dari Suku Aceh lazimnya adalah perwujudan dari warisan budbahasa nenek moyang, cerita rakyat setempat, serta menampung bagian agama yang dianut. Pada umumnya, tarian Aceh ditampilkan secara berkelompok.





tarian saman




Kelompok penari ini mesti mempunyai jenis kelamin yang sama. Berdasarkan agama Islam yang dianut oleh dominan penduduk, dikhawatirkan penari bertentangan jenis posisinya akan berdekatan, bahkan bersentu.





Tarian tradisional Aceh ada yang dijalankan dalam posisi bangun serta duduk. Beberapa tarian Aceh diiringi oleh musik, khususnya alat musik perkusi dan juga vokal. Bahkan ada pula tarian yang diiringi oleh suara para penari.





Beberapa tarian Aceh yang terkenal yaitu Tari Seudati, Tari Likok Pulo, Tari Laweut, Tari Pho, Tari Ratoh Diek, Tari Tarek Pukat, Tari Rabbani Wahed, Tari Ranup Iam Puan, dan lain-lain.





Makanan Khas Aceh





Makanan khas dari Aceh memiliki kesamaan dengan makanan khas India, misalnya gulai dan kerambi kering. Hal tersebut masuk akal karena banyak orang keturunan India yang menetap dan tinggal di provinsi Aceh.





Kuliner Aceh dikenal kaya dengan bumbu rempah, mirip halnya makanan khas India dan Arab. Bumbu gulai dan kari lazimnya dipadukan dengan daging kerbau, sapi, kambing, atau ikan dan ayam.





Selain itu, ada pula makanan tradisional yang berbahan dasar ikan. Nama hidangan ini yaitu Eungkot Paya. Makanan khas Aceh lain yang populer adalah Ayam Tangkap, Nasi Guri, Kuah Beulanggong, Kanji Rumbi, Mie Caluk, Mie Aceh, Sate Matang, Sop Sumsum, dan lain-lain.





Untuk camilan, Aceh juga memiliki kuliner khas, contohnya sanger, pisang sale, manisan pala, keumamah, kembang loyang, rujak Aceh, timphan, keukarah, Bhoi, dan lain-lain. Semua kuliner tersebut hingga dikala ini gampang ditemukan di Aceh.





Tokoh Nasional Dari Aceh





Sebagai salah satu bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia, masyarakat Aceh banyak berkontribusi kepada terciptanya kemerdekaan Indonesia dari penjajahan Belanda dan Jepang. Akan namun ada beberapa di antaranya merupakan tokoh pergerakan yang mempunyai persepsi berlawanan.





Berikut adalah tokoh-tokoh dari Aceh dahulu hingga kini, antara lain:





  • Sultan Iskandar Muda, sultan Aceh paling besar
  • Teungku Chik Di Tiro, mujahid besar yang menhidupkan kembali perjuangan Aceh melawan Belanda
  • Tuanku Hasyim Banta Muda, panglima besar angkatan perang Aceh
  • Teuku Umar, jagoan melawan Belanda
  • Cut Nyak Dhien, jagoan wanita dari Aceh
  • Cut Nyak Meutia, jagoan wanita dari Aceh
  • Teungku Fakinah, ulama wanita dan pendekar asal Aceh
  • Daud Beureu’eh, pemimpin gerakan DI/TII
  • Teuku Mohammad Hasan, gubernur Sumatra pertama
  • Teuku Nyak Arief, gubernur Aceh pertama
  • Hasan Tiro, pendiri Gerakan Aceh Merdeka
  • Ismail al-Asyi, ulama besar Aceh
  • Teuku Jacob, bapak paleoantropologi Indonesia
  • Teuku Markam, pejuang kemerdekaan, usahawan dan penyumbang 38 kg emas untuk Monas
  • Ibrahim Alfian, sejarawan dan mantan dekan Fakultas Sastra, UGM
    P. Ramlee, serta artis legenda Malaysia
  • Tan Sri Sanusi Juned, mantan menteri Malaysia
  • Surya Paloh, Pengusaha dan Politikus
  • Laksamana Keumalahayati, Laksamana Perang Wanita Pertama di Dunia
  • Sultan Malikussaleh, Sultan Kerajaan Islam Pertama di Nusantara
    Tun Sri Lanang, serta penyusun Sulalatus Salatin




20200905


Comments

Popular posts from this blog

Bermanfaat Sec Violation On Credit Card Machine 2023

Banyak Di Cari Falcon Credit Card References

Populer Santander Transfer Credit Card Ideas